Cara Memakmurkan Masjid

Setiap perkampungan yang dihuni mayoritas umat Islam, pasti terdapat bangunan masjid. Beragam bentuk masjid dibangun. Mulai dari bangunan yang sederhana, hingga masjid yang berarsitektur tinggi, megah, indah dan mewah.



Manakah yang lebih diuta­makan, kemegahan fisik atau membangun jama'ahnya? Kemegahan fisik masjid memang diperlukan untuk syiar Islam. Namun Al Qur'an mene­gaskan agar masjid dimak­murkan, bukan hanya membangun fisiknya saja.


Memakmurkan masjid atau disebut juga dengan ta’mirul masajid dapat dilakukan de­ngan berbagai cara, di anta­ranya :



1. Beribadah di dalam masjid.

Seperti sholat berja­maah, berdzikir, membaca Al Qur'an, menuntut ilmu pengetahuan dan sebagainya. Bera­gam ibadah yang dilakukan di masjid tersebut akan melatih pribadi seseorang untuk me­nam­pilkan perilaku-perilaku positif: jiwa yang tenang, suka menolong, tidak mudah mence­la orang, dan memiliki sema­ngat kerja yang tinggi.



2. Menegakkan ja­maah.

Masjid sejatinya dija­dikan sebagai basis persatuan dan kesatuan umat Islam. Di dalamnya tidak dikenal kasta, hanya ada dua yang berperan, imam atau mak­mum. Makmum akan taat ke­pada imam selagi tetap dalam atu­ran.



Mengenai pentingnya ja­maah ini, Rasulullah SAW berpesan: “Sesungguhnya setan itu adalah serigala terhadap manusia. Sama halnya dengan serigala menerkam kambing yang diterkamnya ialah kam­bing-kambing yang menjauh dan terpisah-pisah. Oleh sebab itu sekali-kali janganlah kamu me­nempuh jalan sendiri dan hen­daklah kamu berjamaah dan berkumpul dengan orang ba­nyak dan ke masjid. (HR Imam Ahmad dari Mu’az bin Jabal).




3. Membangun dan memeliharanya.

Membangun dan memelihara masjid dapat dilakukan dengan cara men­dirikan bangunan masjid, memperbaiki jika ada yang rusak, tentu dengan uang yang halal. Jika ada orang kaya yang menyumbangkan kekayaannya untuk mendirikan masjid besar-besar, padahal jiwanya sendiri tidak pernah ikhlas berinfaq atau berwakaf, tidak pernah sholat berjamaah, atau hanya ingin dipuji oleh orang lain, maka semua yang ia lakukan tidaklah mendatangkan manfaat baginya kelak di akhirat.



Namun bagi orang yang berupaya untuk membangun masjid dengan ikhlas karena Allah semata, maka Allah menjanjikan surga baginya, meskipun upaya itu hanya sedikit sekali. Dari Ibn Abbas Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa membangun masjid karena Allah, meskipun seluas tanah galian burung merpati, niscaya Allah akan membangun rumah baginya di surga. (HR. Ahmad).




Perlu ditegaskan, pemba­ngunan masjid sesungguhnya menguji persatuan umat, sam­pai dimana komitmennya dalam membangun rumah Allah secara bersama. Mana yang lebih kokoh dan indah bangunan masjid dari pada rumahnya sendiri? Ironis, rumah laksana istana, tetapi masjid dibangun justru hasil dari meminta-minta di jalan raya. Jika ini terjadi, maka telah tampak nyata kerapuhan persa­tuan umat.




4. Membersihkan dan menjaga kesuciannya.

Dalam satu hadis dijelaskan: Ada seorang perempuan yang senantiasa menyapu masjid, kemudian meninggal dunia. Nabi SAW lalu menanyakan tentang perem­puan itu. Dijawab bahwa dia telah wafat. Nabi bersabda: “Mengapa kalian tidak mem­beritahukannya kepadaku?” Maka beliau mendatangi kubu­rannya lalu menshalatkannya. (HR. Asy-Syaikhani, Abu Daud, dan Ibn Majah).



Oleh karena itu, menghi­langkan kotoran dari masjid dan membuatnya selalu bersih adalah wajib. Jika masjid telah disapu, disiram (atau dipel) disunatkan pula jika masjid diberi wewangian. Dengan de­mi­kian diharapkan jamaah menjadi nyaman, tentram dan senang di dalam masjid, di samping karena alasan kei­manan yang kuat.




Namun membersihkan masjid dari sifat-sifat jamaah yang berpenyakit hati, seperti riya, iri, dendam, sombong, dan lainnya jauh lebih sulit dari sekadar membersihkan fisik masjid. Karena itu, orang yang memakmurkan masjid tidak saja menjaga kebersihan fisik masjid, tetapi juga memelihara kesucian hatinya.




5. Memfungsikan masjid sesuai keridhoan Allah.

Kita patut mencontoh masa Rasulullah SAW dalam me­mak­murkan masjid. Quraysh Shihab menyebutkan, tidak kurang dari sepuluh peran Masjid Nabawi pada masa tersebut, yaitu:
a. Tempat ibadah (shalat dan zikir).
b. Tempat konsultasi dan komu­nikasi (masalah ekonomi, sosial dan budaya).
c. Tempat pen­didikan.
d. Tempat santunan sosial.
e. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
f.  Tempat pengobatan para korban perang.
g. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
h. Aula dan tempat menerima tamu.
i.  Tempat menawan tahanan.
j.  Pusat pene­rangan atau pembelaan agama.



Namun kini, masjid tidak lagi berperan sedemikian besar, sebab berbagai lembaga di luar masjid telah bermunculan dan tertata sedemikian rupa. Akan tetapi masjid masa kini mesti terbuka untuk dikembangkan baik dalam beribadah kepada Allah secara khusus, termasuk menjadikannya sebagai wadah untuk mengembangkan kehidu­pan umat, seperti pendidikan, kesehatan, pusat dakwah, tempat musyawarah, dan seba­gainya, Amin ya Robbal Alamin.

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Takmir Masjid Baitussalam

Keutamaan Memakmurkan Masjid

Ciri-ciri orang yang memakmurkan masjid

Seni Islami

Selamat Datang

Majelis Ta'lim

Pelajaran Seni Baca Al Qur'an

Peran dan Fungsi Masjid